Menanti dalam ridho
Di dalam ruang dan waktu yang berbeda dari ruang dan waktu saat ini. Allah bertanya "apa yang kalian inginkan lagi? mintalah padaku Ku". Mereka menjawab "ridhomu ya Allah".
Mereka ridha kepada Allah dan Allah pun ridha terhadap mereka. dan mereka adalah orang yang ridha terhadap apa yang Allah pilihkan dalam hidup mereka, dan ridha terhadap apapun sakit batin dan fisik yang menimpa mereka, mereka bersabar dan menerima.
Mereka yang saat hidupnya selalu mengatakan dalam doa, aku ridho atas engkau ya Allah aku ridha terhadap apapun yang menimpaku aku ridha terhadap keadaan apapun yang engkau pilihkan dalam hidupku. Aku ridha Engkau sebagai Tuhan ku. Aku puas, aku senang dengan kesedihan ini, aku sabar.
Hidup ini bukan tentang keinginan kita karena kita hanyalah jiwa yang tidak mengerti apapun. Jiwa ini terlalu bebas, keinginan manusia sangat banyak dan tak terhingga, tak mungkin Allah beri semua mau kita, karena mungkin ada kecelakaan yang menanti di depan bagi kita atas kemauan kemauan kita. Namun Allah mengetahui segalanya yang baik dan buruk bagi kita, yang tahu masa depan kita, yang tahu keburukan apa yang akan menimpa kita akibat doa-doa kita sendiri.
Ketika kita tidak mengerti lalu kita marah, ketika kita tidak paham lalu kita menyalahkan Allah. Keridhaan adalah satu-satunya kunci menyerahkan diri kita untuk menyediakan kepasrahan di dalam hati terhadap apa yang terjadi tanpa tahu maksudnya, Dan suatu saat kita akan mengerti hikmahnya, kita akan mengerti maksudnya, dan merasa bodoh telah meronta dan tak terima atas kebaikan yang Allah pilihkan karena merasa itu sebuah kesialan.
Menanti dalam ridha.
Aku menikah dengan seseorang yang hanya aku kenal selama 3 bulan, dari mulai aku belum mengenalnya sampai ke akad. Sangat lancar jalan jodohku diantara banyak wanita yang sampai saat ini belum menemukan tambatan hatinya, yang sedang menanti kekasih yang tak kunjung tiba dalam ridha.
Bulan berganti bulan banyak kerabat yang bertanya apakah aku sudah hamil. Namun aku menjawab ringan dengan senyuman "belum kak, belum pak, belum Bu, masih baru juga kok, doain yaa biar segera." aku menjawab tanpa ada perasaan sedih sedikitpun tidak ada yang aku khawatirkan di dalam hatiku aku hanya sedang menikmati masa-masa pacaran halalku, karena aku baru mengenal suamiku.
Sama sekali tidak terbersit untuk menunda ataupun mempercepat memiliki anak saat itu, kami hanya menjalaninya apa adanya tanpa ilmu medis ataupun ilmu ilmu lainnya untuk mempercepat memiliki anak kami hanya menjalani semuanya dengan sangat santai dan enjoy.
Tiba datang ramadhan maka semua orang berkumpul dan semua orang berjumpa, setelah setahun kami menikah pertanyaan orang tidak berubah, "kapan mau punya anak?" hatiku mulai terbersit sedikit menjawab pertanyaan mereka, "aku mau punya anak, tapi kan bukan aku yang menentukannya." tapi itu hanya terbersit di pikiranku saja, lagi-lagi aku hanya menjawab dengan senyuman dan berkata "belum dikasih, masih baru kan masih setahun. Hehe"
Bulan berganti bulan, tamu datang bulan selalu datang walau kadang terlambat, tahun-tahun berganti, Ramadan Ramadan terlewati, hari raya idulfitri juga telah banyak dilewati, tespek demi tespek dibuang sia sia menyisakan hati yang kecewa berulang ulang hingga sampai di titik bahwa aku takut melihat garis satu, trauma untuk kecewa lagi, orang-orang yang kami datang dalam pernikahannya telah menimang bayi sementara kami yang telah lebih dulu menikah, masih saja berdua.
Mereka telah memiliki satu, dua bahkan tiga balita, kami tidak ada rasa iri dan dengki pada mereka yang telah dikaruniai anak, kami bahagia melihat bayi mungil mereka lahir silih bergantu, tetapi kami sedih saat melihat cermin, lalu bergumam pada diri "apa yang salah pada diri kami".
Kami gelisah, mulai terganggu dengan keadaan saat ini, dan doa-doa terasa lebih khusyuk dari doa-doa yang lalu.
Linangan air mata yang jatuh ke sajadah sudah membasahi doa entah berapa kali.
Pernah datang bulan terlambat beberapa hari, beberapa minggu, atau bahkan pernah sampai sebulan, itu menjadi sebuah harapan besar yang menjadikan kekecewaan itu semakin besar juga ketika garis di tespek masih menyendiri lagi dan lagi.
Tidak ada ada kata-kata kapok dalam memandang garis satu, sudah kecewa sekian kali namun masih saja harapan itu kami ukir di dalam hati. "Mungkin bulan depan" harap kami di tiap bulan nya.
Kata mereka, "minum pil ini campur kapsul ini" sudah kami lakukan, namun belum juga. "Urut disini, minum jamu ini," iya kami lakukan, namun belum juga. "Sedekah ke sini, ke sana," iya kami lakukan, namun belum juga, "terapi mandi hujan," baiklah, tapi belum juga, "gaya berhubungan suami istri nya begini dan begitu yang bisa cepat punya anak," sudah kami lakukan, namun belum juga, "banyakin makan toge, kurma muda, madu, telor kampung, minuman rempah," sudah, namun belum juga. "cek ke dokter," sudah, tidak ada yang buruk, namun belum juga. "Luruskan sedikit badan mu itu kegemukan" baik, sudah dilakukan namun belum juga. "banyakin jumpa, jangan LDR, gimana mau hamil, kalian nya egois" sudah kami usahakan selalu bersama, masih belum juga, "jangan kecapean, jangan stres." dalam hati bergumam, justru kalian semua yang memberi masukan ini itu tanpa dipinta, ditambah bumbu bumbu menyalahkan dan menekan itu adalah kelancangan yang membuat kami stres. Diantara sekian banyak nasihat, semua nya bersifat duniawi, sementara anak bukanlah hasil dari ramuan, X ditambah Y, namun kehadirannya adalah kehendak Allah. Allah berkehendak memberi atau tidak. Allah berkehendak menunda atau memberi sekarang. Itu semua kehendak Allah, karena semua yang ada adalah milik Allah, diri ini pun milik Nya.
Manusiawi untuk sedih, manusiawi untuk kecewa, karena kami bukan malaikat yang suci. Setan pun selalu berbisik jahat di dalam telinga dan setan selalu berisik jahat di dalam hati untuk menyalahkan keadaan yang Allah pilihkan ini.
Mereka membisikan di dalam hati kami bahwa Allah yang maha mendengar tidak mendengarkan doa kami. Mereka membisikkan di dalam hati kami bahwa Allah yang maha pemberi sangat kikir terhadap kami. Padahal kami sudah berdoa dengan khusyuk, dan telah banyak ikhtiar yang kami lakukan sesuai kemampuan kami.
Kelemahan iman kadangkala ingin meng-iyakan semua bisikan jahat itu, ingin marah dan putus asa, namun rasa sayang terhadap Allah mampu mengalahkan semua bisikan itu.
Tidak mungkin Allah yang jahat tidak mungkin Allah yang kikir tidak mungkin Allah tidak mendengar, pasti aku yang salah, pasti aku yang berdosa, pasti aku yang bodoh, pasti aku yang tidak mengerti maksudNya, Allah baik dan selalu baik.
Sarah diberi Allah anak di usia 80-an tahun. "Robbi habli Minnas solihiinn..." Rintih nya dalam ratusan purnama.
Anak itu amanah, yang dititipkan oleh Allah pada siapa yang Dia pilih. Dititipkan, alhamdulillaah, tidak dititipkan juga alhamdulillaah.
Bisa jadi ketika dititipkan, anak itu menjadi penjahat setelah dewasa, yang membuat hati terus menyesal telah melahirkan nya, bukan kah banyak kita dengar sumpah serapah dari ibu yang teraniaya oleh kejahatan anak nya, membuat malu keluarga, dan menyakiti banyak orang.
Pintu syurga itu banyak, tak harus orang yang masuk syurga itu memiliki anak, jika tolak ukur kesolehan seseorang dilihat dari banyak nya buah hati, maka betapa sedih Aisyah Radhiyallahu Anhu yang seumur hidup tak memiliki nya, padahal ia adalah wanita yang masa depan nya adalah syurga.
Jangan kita memaksa hal belum direzekikan kepada kita. Kita hidup untuk beribadah dan mati untuk bertemu Allah, bukan hidup untuk punya anak, bukan hidup untuk punya harta, itu bukan tujuan kita, namun hanya menjadi wasilah untuk berbakti pada Allah. Carilah wasihal yang kita mampu untuk meraih banyak amal.
Banyak pintu syurga yang lain, puasa, haji, solah Sunnah, sedekah, menjaga anak yatim, menjadi istri Solehah, menjadi suami soleh, menjadi anak berbakti.
Jangan meratap dan memaki Allah hanya demi wasilah, inti tujuan hidup kita ini untuk ridho kepada Allah dan diridhoi oleh Allah. Sayang pada Allah apapun yang terjadi, dan Allah pun sayang pada kita dengan ilmu kebijaksanaan Nya.
Hidup ini bukan kata kita, tapi kata Allah, menurut Allah mungkin kita tak layak, atau tak kuat jika diberi, malah menjadikan kita tidak bertambah baik dan celaka.
Selayak nya anak kecil yang minta bermain pisau pada ibu nya, ibu sebagai orang yang tahu bahaya nya, maka ibu melarangnya agar tidak tergores atau tertusuk yang bisa menyakiti dan mencelakakannya, maka ibu biarkan dia menangis dengan kekecewaannya yang tak bisa bermain pisau yang mengkilap tajam itu. Anak yang tak mengerti ini berkata "mama jahat, mama pelit, mama ga sayang Dede" tetap ibu tidak memberinya, karena rasa sayang ibu terhadap anak kecil tersebut. Dan ibu akan sangat bahagia ketika anak nya ridha dan berkata "yaudah deh, Dede nurut kata mama, Dede main yang lain aja, ga mau maksa minta pisau lagi"
Maka kedudukan yang paling indah adalah ridha, "radhitubillahi Robba, aku ridha menerima pilihan mu ya Allah" hati ridha dan tidak marah, namun ikhtiar dan berdoa terus dilakukan, dengan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar