Kisah nyata dengan nama samaran.
#bukan sedih, tapi rindu.
Ya Allah, ampunilah dosa nya, dan rahmatilah dia, kutarik nafas panjang sambil terpejam seraya air mata terjatuh di kain putih mukena ku, aku bergumam, Mungkin doa ku sia-sia, karena aku yakin Engkau memberi nya lebih dari itu, lebih dari sekedar maaf dan ampunan, karena Kau mencintai nya, Kau menyayangi nya, Kau merindukan nya... Aya telah mendapatkan hal paling penting dari hidup ini, yaitu cinta dari Mu.
Aku membaca ayat kursi dan Alfatihah, lalu menitip salam untuk Rosulullah sallallahu alaihi wasalam, kemudian berdoa, ya Allah, seandainya Aya boleh mendengar ucapan ku, aku menitip suara ini untuk nya... : Aya, ini ibu kirim doa untuk Aya dari jauh, Aya jangan lupain ibu ya, semoga kita bisa berjumpa lagi di sana Aya... Usia Aya jauh dibawah ibu, tapi Aya unggul dalam ibadah dan beramal, dan dengan usia yang singkat ini Aya tak sempat berbuat dosa, mungkin Aya akan sangat tinggi menembus lapisan demi lapisan syurga, semoga ibu bisa masuk syurga juga.. insyaAllah.. ibu sayang Aya..
Itulah sepenggal surat cinta ku untuk Aya, seorang murid yang menyejukan pandangan.
Nama nya Cahaya Mulia, seperti nama toko emas? Tidak, nama nya memang sangat cocok untuk dia.
Aku Arini, pertemuan singkat ku dengan Cahaya dimulai 5 tahun lalu, yaitu tahun 2015. Aku yang saat itu sedang menjadi mahasiswa S1 tingkat akhir mengisi waktu luang di dalam pesantren dekat kampus ku, mengajar disana sore hari, malam nya aku membagikan makanan untuk para santri, dan menemani mereka makan, aku tidur bersama mereka, malam nya aku membangunkan mereka untuk sholat tahajud dan pagi nya aku membagikan sarapan, lalu tugas ku selesai. Aku akan kembali ke pesantren sore berikutnya.
Setiap anak memiliki kharisma nya masing-masing, aku menyayangi semua nya. Termasuk Cahaya. Cahaya adalah seorang anak yang santun, dia tak pernah melewatkan ku saat berpapasan tanpa memberi senyum dan kecupan mesra nya di punggung tangan kanan ku, kecuali ketika aku terburu-buru, dia hanya menyapa dan tersenyum tanpa bersaliman. Dia pemalu, bahkan untuk menatap wajah ku saja dia tak berani berlama-lama, padahal aku kan juga wanita, tak perlu dipertanyakan lagi apakah di usia remaja nya dia habiskan untuk memikirkan kekasih, bahkan memandang wajah bu guru saja dia malu, apa lagi memandang lelaki.
Tak banyak yang aku tau tentang Cahaya, dia tak banyak bicara, yang aku tau dia santun, lembut dan suka menolong.
Di pesantren bukan berarti setiap hari tenang seperti taman syurga, ada kala nya mereka bertengkar, seperti hal nya kakak beradik dalam satu atap, pasti ada sedikit bumbu perselisihan, tapi sepengetahuan ku, cahaya tidak pernah terlibat, dia terlihat sabar dan mengalah, terkadang dia juga terlihat pucat dan lelah, mungkin dia juga tidak bertenaga untuk bertengkar, dia hanya menghabiskan energi nya untuk belajar dan menghafal AlQuran.
Waktu berlalu, aku sudah menikah, sudah menamatkan S2, dan kini sudah pindah ke pulau lain. Saat ini Cahaya menjadi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi AlQuran, sambil terus mengabdi di pesantren menjadi guru, tak perlu diragukan hafalannya, karena Cahaya kini telah menamatkan cita cita nya sebagai Hafidzah AlQuran 30 juz, alhamdulillah.
Roda berputar kini adik bungsu ku yang masuk pesantren itu, tetapi belum bermukin di pesantren, mungkin dia akan menginap saat sudah MTS, sekarang Cahaya adalah ibu guru nya, lumayan walau baru kelas 2 SD, adik ku sudah banyak menghafal surat surat panjang. Setiap hari bunda ku mengantar dan menemani adik ku, bunda ku juga sangat dekat dengan Cahaya, jika ada waktu kosong bunda sering bertanya ilmu ilmu AlQuran pada cahaya, karena mencari ilmu tak pandang usia atau status, selagi ada ilmu yang bisa bermanfaat maka Cahaya mengajarkan nya, dan bunda pun tak malu untuk bertanya pada Cahaya yang jauh belia.
Beberapa hari lalu aku lihat status bunda di media sosial, ada foto Cahaya dengan tulisan memohon bantuan donor darah berjenis A+ sebanyak banyak nya, di RS Fatmawati untuk menolong Cahaya yang didiagnosa Anemia Aplastik, sudah 4 hari Cahaya dalam keadaan koma.
Aku yang sudah 4 tahun tidak melihat Cahaya tiba-tiba dapat kabar seperti ini, ku jawab status Bunda,
"Dia itu dulu murid nya uni bun, Sakit apa dia bun? Kok anemia sampai koma?"
"Anemia aplastik sayang, bunda juga ga tau, tapi sekarang masih koma, semoga darah bunda yang tiap bulan bunda donorkan masuk dan bermanfaat ke tubuh bu guru Cahaya."
"Aamiiinn bun, semoga Allah kasih yang terbaik buat Cahaya"
Segera ku repost status bunda. Dan beberapa menit kemudian di repost juga oleh beberapa orang.
Dengan rasa ingin tau, aku cari tau tentang anemia aplastik, ku baca ulasan seorang dokter, tak terasa aku menangis, membayangkan kondisi Cahaya saat ini, mirip seperti kangker darah, sum sum tulang belakang nya tidak memproduksi darah dengan baik.
Suami ku heran melihatku menangis, lalu bertanya.
"Sayang kenapa nangis main hp?"
"Lagi baca tentang anemia aplastik bi, murid adek dulu lagi koma bi, karena penyakit ini, kasihan banget bi, badan nya ga bisa memproduksi darah sendiri, sekarang butuh banyak darah dari orang lain." Jelasku yang mengambil kesimpulan cepat dari tulisan itu
"Ya Allah.. semoga cepet sembuh ya dia.." jawab nya sambil menghela nafas seperti ikut merasakan kesedihan ku
"Aamiiin bi.." jawab ku singkat sambil terus membaca tulisan dokter itu.
Sehabis sholat aku mendoakan nya, aku menangis, entah mengapa, padahal aku hanya sekilas mengenal nya, mungkin karena dia setenang bidadari.
Esok hari hp ku berbunyi, ada panggilan masuk dari Bunda ku.
"Assalamualaikum sayang, innalillahi Cahaya meninggal..." ku dengar suara bunda ku yang nafas nya terisak-isak, aku yakin bunda sedang menangis.
"Ya Allah... Innalillahi wainna ilaihi rojiun" Aku pun menangis.
"Jangan sedih bun.." lanjut ku.
"Ya... bukan nya sedih, tapi kan kangen ni.. dia itu baik banget dan lembut ngajarin bunda, dah bunda sayang kaya anak kandung rasa nya" jawab bunda spontan.
Aku tertegun.
"Kita rindu, tapi Allah lebih rindu sama dia" bisik ku di dalam hati.
"Cahaya pasti udah bahagia sama Allah, uni doa yang terbaik buat Cahaya, tapi mungkin terbaik menurut Allah itu bertemu Allah" ujar ku.
"Iya sayang, semoga bahagia dia di sana.. kemaren dia sempet koma dan tersiksa dengan penyakitnya" jawab bunda.
"Iya bun, mungkin Allah udah kangen banget sama dia, di hidupnya yg sebentar itu sibuk beramal aja, bahkan hafal seluruh AlQuran. Kalau sakit itu kan penggugur dosa, tapi mungkin sakitnya dia ini bukan penggugur dosa tapi untuk membuat dia sampai pada derajat tinggi yang Allah kehendaki" jelas ku.
"Iya sayang, bunda cuma mau ngabarin itu aja.. sayang hati hati ya di sana, assalamualaikum" tutup bunda.
"Iya bunda sama bapak juga sehat sehat ya di sana, waalaikumsalam" jawab ku.
Kebetulan sudah azan Dzuhur, setelah menutup telepon, aku sholat dan berlirih pada Allah.
Ya Allah, ampunilah dosa nya, dan rahmatilah dia, kutarik nafas panjang sambil terpejam seraya air mata terjatuh di kain putih mukena ku, aku bergumam, Mungkin doa ku sia-sia, karena aku yakin engkau memberi nya lebih dari itu, lebih dari sekedar maaf dan ampunan, karena Kau mencintai nya, Kau menyayangi nya, Kau merindukan nya... Cahaya telah mendapatkan hal paling penting dari hidup ini, yaitu mencintai dan dicintai Mu.
Ya Allah, seandainya Aya boleh mendengar ucapan ku, aku menitip suara ini untuk nya... Aya, ini ibu kirim doa untuk Aya dari jauh, Aya jangan lupain ibu ya, semoga kita bisa berjumpa lagi di sana Aya... Usia Aya jauh dibawah ibu, tapi Aya unggul dalam ibadah dan beramal, dan dengan usia yang singkat ini Aya tak sempat berbuat dosa, mungkin Aya akan sangat tinggi menembus lapisan demi lapisan syurga, semoga ibu bisa masuk syurga juga.. insyaAllah ya.. ibu sayang Aya.. tolong sampaikan ya Allah..
Ya Allah.. Engkau sangat sayang hamba Mu ya Allah. Sangat sesak rindu itu pada Mu ya Allah? Kami saja yang sekilas mengenalnya tiba-tiba saja bisa merindukan nya, apa lagi Engkau ya Allah.. tiap kalam Mu disenandungkan setiap saat oleh nya, ada dalam jiwa nya, bukan hanya dalam genggaman tangan berupa fisik AlQuran, dia bersusah payah mengukir kata kata Mu dalam benak nya, dia habiskan waktu untuk Mu, untuk berbakti dan untuk menghamba.. dia merindukan Mu setiap nafasnya, dan Kau pun merindukan nya. Gayung cinta bersambut indah antara hamba dan Tuhannya.
Ya Allah.. aku titip salam untuk Rosulullah.. dan keluarga nya, dan sahabat seperjuangan nya, umat muslimin di dunia, dan untuk Cahaya. Semua yang indah adalah milik Mu ya Allah. Cahaya indah, akhlak nya indah, hidup nya indah. Indahkan juga aku ya Allah. Tapi aku penuh dosa. Aku dzolim. Aku keji. Aku jahat. Aku berlindung dengan kekuatan Mu dari kejahatan diri ku sendiri ya Allah. Kau sudah pasti mencintai semua hamba Mu, tapi aku ini yang tak mampu membalas cinta yang setimpal, kadang aku yang tak mau, kadang aku yang ingkar, kadang aku bodoh, kadang aku yang malas. Aku selalu sia-siakan cinta Mu. Ya Allah.. jadikan aku baik... Aaamiiinn..."
Cahaya menutup hidupnya dengan tangisan rindu para kerabat, kerabat sekilas semacam diri ku saja merindu, entah bagaimnaa kerinduan ibu nya, ayah nya, sahabat nya yang setiap hari ada di sisi nya.. rindu yang tak berujung dan entah kapan berjumpa.. kita semua nanti akan dimatikan juga, apakah happy ending dalam kisah kita? bagaimanakah nasib diri. Aku yang pasti akan menyusul, masih sibuk dengan dunia ini.
Sampai bertemu di dimensi lain. Salam dari penulis untuk sesama hamba yang sama sama sedang menunggu waktu berhenti nya. Kembali pada Allah. Sehidup se-syurga.
By: Arini indi khair
Based on true story, kisah nyata. Nama asli beliau Nurul Karomah yang berarti Cahaya Mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar