Selasa, 13 Oktober 2020

Belenggu harapan

 Belenggu harapan


Ingin ini, ingin itu, banyak sekali.

Semua, semua, semua dapat dikabulkan, dapat dikabulkan dengan kantong ajaib.


Itulah sepenggal semu yang merasuk dalam relung hati anak anak yang mendengarkan lagu ini dengan riang.


Dia pikir itu sebuah kenyataan, namun sayang nya dia belum bisa membedakan kenyataan dengan cerita dongeng.


Seketika anak itu menjadi dewasa dan mengetahui bahwa tidak semua bisa dikabulkan, lagi pula kantong ajaib itu pun hanya sebuah oasis yang menipu.


Bahkan Tuhan yang Kuasa dan Pemurah pun memiliki syarat untuk mengabulkan. Karena tak mungkin semua keinginan dapat dikabulkan, mungkin perampok berdoa hari ini dapat mangsa, lalu pekerja baik hati berdoa hari ini bisa pulang ke rumah dengan selamat. Tentu semua punya syarat dan ketentuan.  Mesti berhati bersih, mesti doa yang baik, mesti tak memaksa, mesti tak terburu buru, mesti berpasrah akan dikabul di dunia atau di akhirat, mesti berpasrah akan dikabul secara persis atau dikabul dengan yang lebih baik. Namun manusia tak sempurna.


Harapan, doa, bahkan hasrat yang tak sempat terucap adalah milik semua orang, setiap waktu terus menerus memikirkan harapan yang belum tercapai, atau mungkin tidak akan pernah kita mencapai nya.


Seseorang yang memiliki uang banyak, menginginkan punya teman yang tulus tanpa ada yang memanfaatkan nya, karena ia bertanya tanya siapakah yang akan bersama ku saat aku hanya punya seribu rupiah di hari itu, ketulusan seorang teman adalah suatu yang tak bisa dibeli dengan tabungan nya.


Seseorang yang mencicil rumah dan kendaraan menginginkan uang yang banyak, semua orang mengira mereka kaya raya, karena barang mereka mewah, padahal uang di dompet dan di atm nol setiap selesai membayar angusuran, untuk makan pun susah, banyak orang meninjam uang pada mereka, namun orang tak tahu bahwa penghuni rumah mewah itu adalah orang yang selalu minus, bak pepatah besar pasak dari pada tiang.


Seseorang yang mempunyai anak yang banyak, berharap bisa menepi sebentar dari semua kekacauan, kebisingan dan kelelahan dari anak anak nya, berharap bisa punya waktu untuk mengurus diri nya yang kian lama semakin lelah fisik dan batin nya, belum lagi jika suami pun lelah dari bekerja, bentrok hati, semakin menjerit hati ibu rumah tangga yang tak terdengar,


sebaliknya seorang istri yang mempunyai suami baik hati dan kehidupan nyaman, menangis dalam hening nya kamar mandi pasutri, karena sudah ribuan tespek negatif lagi dan lagi, bertanya mengapa, namun tak ada yang bisa menjawab pertanyaan nya, berdoa dalam kekecewaan yang manusiawi, menanti dalam pasrah asa, dan menata hati kembali untuk menguatkan semangat.


Seseorang yang sehat tanpa pantangan penyakit apapun, menginginkan makanan enak di restoran yang dilaluinya, namun apa daya hasil kerja hari ini hanya cukup membeli nasi tempe seharga 5ribu.


Beda lagi hasrat seorang pengusaha kaya raya yang naik peswat kelas bisnis, yang hanya meminta air hangat, karena semua makanan enak tak lagi bisa diterima oleh tubuh nya yang sudah merongsok, lalu dia berharap bisa membeli kenikmatan sehat dengan uang nya.


Begitu juga dengan wanita yang bisa setiap hari makan makanan enak, walau tubuh nya gemuk, namun orang tua, suami, sahabat, kakak, adik, semua nya membuli nya, dia sangat menginginkan badan langsing seperti idol korea, berharap ada obat pelangsing ajaib yang bisa merubahnya menjadi barbie.


Dan para wanita cantik di layar kaca itu pun bergumam didalam hati, menginginkan makanan enak, kue, es krim, coklat, donat, tart, pizza, mie ayam, bakso, dll, tapi apa daya tekanan media, tekanan sponsor, tekanan fans yang ingin kesempurnaan membuatnya hanya memakan tomat, apel, dan daging hambar, bahkan dalam aliran ekstrem ada yang hanya memakan kapas saja, mereka berharap jadi orang biasa yang tak dikenal dalam satu atau dua hari untuk meliburkan semua tuntutan hidup nya.


Semua orang punya masalah, semua orang punya beban, semua orang punya keinginan, tapi semua orang juga punya bahagia, semua orang punya keinginan yang sudah tercapai, namun kebanyakan hanya terus memikirkan mau lagi, mau lagi, lupa menikmati yang ada, tak puas puas, ingin hidup sempurna dari segala arah, namun lupa hidup tak akan pernah sempurna, bahkan yang kita lihat sempurna pun banyak yang bunuh diri, entah hal apa yang menjadi keinginan nya. Orang kaya, orang terkenal, orang cantik, orang tampan, orang sempurna, ada juga yang bunuh diri.


Semua punya keinginan, semua punya harapan, semua punya hasrat, tariklah nafas dalam dalam, sejenak, lihat apa yang kita miliki, bukan yang belum kita miliki, lalu rasakan seakan akan kita baru memilikinya, sehingga kita bisa merasa bersyukur lagi, terkadang kita hanya senang di awal saat kita mendapat sesuatu, namun ketika sudah lama jadi biasa saja, padahal rasa bersyukur atas apa yang ada harus kita ciptakan lagi dan lagi.


Bersyukurlah kita bisa membaca tulisan ini, seakan akan kita baru saja selesai operasi mata dan kita baru bisa melihat, merasa hidup sangat indah dengan satu nikmat mata melihat, maka kita akan bersyukur memiliki semua yang ada. 

-Arini indi khair-