Senin, 31 Mei 2021

Dimensi waktu

 Tiba tiba random kepikiran, dimensi waktu sebenernya beda2 yah..

Capung mayflies hidup nya singkat banget cuma lahir dan mati dalam 24 jam, bagi kita singkat, tapi kita ga tau dia yang ngejalanin nya apakah udah merasa lama atau engga.

Sama juga kaya gerakan manusia dan hewan yang bisa gerak sana sini, sedangkan tumbuhan juga gerak tapi lambat banget, dan mereka ternyata punya gelombang bersuara juga, mungkin bagi taneman kita ngomong dan gerak nya kecepetan, sedangkan bagi kita mereka yang slowmo.

Manusia lampau usia mereka ratusan bahkan ribuan tahun, dan kaget kalo ada manusia usia nya cuma 60an, mereka bilang kalo usia segitu akan dipakai buat sekali sujud aja ga usah bangun bangun sangking merasa singkat, 

Bagi kita manusia modern yang ngejalanin, usia 30an aja udah ngerasa tua.

Apalagi bagi orang yang udah di akhirat, mandang hidup dunia cuma kaya nonton film, 1,5 jam abis.


Dunia ini seaneh itu ya.

Mahasiswa deadline

 Jejak di tiap jengkal kampus

jadi saksi bisu.

Tempat aku datang 

sejak pagi baru memberi cahaya nya

menanti waktu

sampai petang saat gelap menyelimuti.

Merajut asa 

dalam setiap kecewa.

Mengukir semangat

dalam setiap putus asa.


Penuh tekanan oleh waktu deadline

Penuh tekanan oleh jalan buntu dan otak yang membeku

untuk merubah tiap bait dan alinea

Penuh tekanan oleh bayaran kuliah 

yang surut untuk tersedia.

Penuh tekanan oleh ruang dan waktu 

yang tak selalu memperjumpakan.

Penuh tekanan oleh keadaan 

yang kadang mempermainkan.

Penuh tekanan oleh kesalahpahaman

 antara satu dan yang lain.

Penuh tekanan oleh kelemahan 

yang menghadapi kekarangan jiwa.

Penuh tekanan antara putus asa 

dan kecewa yang berulang ulang.

Penuh tekanan antara harapan 

dan doa yang bertaut-taut.


hanya mahasiswa injuring time

 yang mengerti, 

betapa waktu sangat berarti.


semoga semua pejuang

 akan menemui muara yang indah

 bagai telaga, yang bernama kelulusan.


Sayangi dan kenang terus

 setiap senyum dan semangat 

yang memberi kesegaran 

dalam biru nya jiwa mu 

saat masa perjuangan, 

jangan pernah lupakan mereka.

Minggu, 30 Mei 2021

Buah Hati

 Menanti dalam ridho


Di dalam ruang dan waktu yang berbeda dari ruang dan waktu saat ini. Allah bertanya "apa yang kalian inginkan lagi? mintalah padaku Ku". Mereka menjawab "ridhomu ya Allah". 


Mereka ridha kepada Allah dan Allah pun ridha terhadap mereka. dan mereka adalah orang yang ridha terhadap apa yang Allah pilihkan dalam hidup mereka, dan ridha terhadap apapun sakit batin dan fisik yang menimpa mereka, mereka bersabar dan menerima. 


Mereka yang saat hidupnya selalu mengatakan dalam doa, aku ridho atas engkau ya Allah aku ridha terhadap apapun yang menimpaku aku ridha terhadap keadaan apapun yang engkau pilihkan dalam hidupku. Aku ridha Engkau sebagai Tuhan ku. Aku puas, aku senang dengan kesedihan ini, aku sabar.


Hidup ini bukan tentang keinginan kita karena kita hanyalah jiwa yang tidak mengerti apapun. Jiwa ini terlalu bebas, keinginan manusia sangat banyak dan tak terhingga, tak mungkin Allah beri semua mau kita, karena mungkin ada kecelakaan yang menanti di depan bagi kita atas kemauan kemauan kita. Namun Allah mengetahui segalanya yang baik dan buruk bagi kita, yang tahu masa depan kita, yang tahu keburukan apa yang akan menimpa kita akibat doa-doa kita sendiri. 


Ketika kita tidak mengerti lalu kita marah, ketika kita tidak paham lalu kita menyalahkan Allah. Keridhaan adalah satu-satunya kunci menyerahkan diri kita untuk menyediakan kepasrahan di dalam hati terhadap apa yang terjadi  tanpa tahu maksudnya, Dan suatu saat kita akan mengerti hikmahnya, kita akan mengerti maksudnya, dan merasa bodoh telah meronta dan tak terima atas kebaikan yang Allah pilihkan karena merasa itu sebuah kesialan.


Menanti dalam ridha. 


Aku menikah dengan seseorang yang hanya aku kenal selama 3 bulan, dari mulai aku belum mengenalnya sampai ke akad. Sangat lancar jalan jodohku diantara banyak wanita yang sampai saat ini belum menemukan tambatan hatinya, yang sedang menanti kekasih yang tak kunjung tiba dalam ridha.


Bulan berganti bulan banyak kerabat yang bertanya apakah aku sudah hamil. Namun aku menjawab ringan dengan senyuman "belum kak, belum pak, belum Bu, masih baru juga kok, doain yaa biar segera." aku menjawab tanpa ada perasaan sedih sedikitpun tidak ada yang aku khawatirkan di dalam hatiku aku hanya sedang menikmati masa-masa pacaran halalku, karena aku baru mengenal suamiku. 

Sama sekali tidak terbersit untuk menunda ataupun mempercepat memiliki anak saat itu, kami hanya menjalaninya apa adanya tanpa ilmu medis ataupun ilmu ilmu lainnya untuk mempercepat memiliki anak kami hanya menjalani semuanya dengan sangat santai dan enjoy. 


Tiba datang ramadhan maka semua orang berkumpul dan semua orang berjumpa, setelah setahun kami menikah pertanyaan orang tidak berubah, "kapan mau punya anak?" hatiku mulai terbersit sedikit menjawab pertanyaan mereka, "aku mau punya anak, tapi kan bukan aku yang menentukannya." tapi itu hanya terbersit di pikiranku saja, lagi-lagi aku hanya menjawab dengan senyuman dan berkata "belum dikasih, masih baru kan masih setahun. Hehe"


Bulan berganti bulan, tamu datang bulan selalu datang walau kadang terlambat, tahun-tahun berganti, Ramadan Ramadan terlewati, hari raya idulfitri juga telah banyak dilewati, tespek demi tespek dibuang sia sia menyisakan hati yang kecewa berulang ulang hingga sampai di titik bahwa aku takut melihat garis satu, trauma untuk kecewa lagi, orang-orang yang kami datang dalam pernikahannya telah menimang bayi sementara kami yang telah lebih dulu menikah, masih saja berdua. 


Mereka telah memiliki satu, dua bahkan tiga balita, kami tidak ada rasa iri dan dengki pada mereka yang telah dikaruniai anak, kami bahagia melihat bayi mungil mereka lahir silih bergantu, tetapi kami sedih saat melihat cermin, lalu bergumam pada diri "apa yang salah pada diri kami".


Kami gelisah, mulai terganggu dengan keadaan saat ini, dan doa-doa terasa lebih khusyuk dari doa-doa yang lalu. 


Linangan air mata yang jatuh ke sajadah sudah membasahi doa entah berapa kali. 


Pernah datang bulan terlambat beberapa hari, beberapa minggu, atau bahkan pernah sampai sebulan, itu menjadi sebuah harapan besar yang menjadikan kekecewaan itu semakin besar juga ketika garis di tespek masih menyendiri lagi dan lagi. 


Tidak ada ada kata-kata kapok dalam memandang garis satu, sudah kecewa sekian kali namun masih saja harapan itu kami ukir di dalam hati. "Mungkin bulan depan" harap kami di tiap bulan nya.


Kata mereka, "minum pil ini campur kapsul ini" sudah kami lakukan, namun belum juga. "Urut disini, minum jamu ini," iya kami lakukan, namun belum juga. "Sedekah ke sini, ke sana," iya kami lakukan, namun belum juga, "terapi mandi hujan," baiklah, tapi belum juga, "gaya berhubungan suami istri nya begini dan begitu yang bisa cepat punya anak," sudah kami lakukan, namun belum juga, "banyakin makan toge, kurma muda, madu, telor kampung,  minuman rempah," sudah, namun belum juga. "cek ke dokter," sudah, tidak ada yang buruk, namun belum juga. "Luruskan sedikit badan mu itu kegemukan" baik, sudah dilakukan namun belum juga. "banyakin jumpa, jangan LDR, gimana mau hamil, kalian nya egois" sudah kami usahakan selalu bersama, masih belum juga, "jangan kecapean, jangan stres."  dalam hati bergumam, justru kalian semua yang memberi masukan ini itu tanpa dipinta, ditambah bumbu bumbu menyalahkan dan menekan itu adalah kelancangan yang membuat kami stres. Diantara sekian banyak nasihat, semua nya bersifat duniawi, sementara anak bukanlah hasil dari ramuan, X ditambah Y, namun kehadirannya adalah kehendak Allah. Allah berkehendak memberi atau tidak. Allah berkehendak menunda atau memberi sekarang. Itu semua kehendak Allah, karena semua yang ada adalah milik Allah, diri ini pun milik Nya.


Manusiawi untuk sedih, manusiawi untuk kecewa, karena kami bukan malaikat yang suci. Setan pun selalu berbisik jahat di dalam telinga dan setan selalu berisik jahat di dalam hati untuk menyalahkan keadaan yang Allah pilihkan ini. 

Mereka membisikan di dalam hati kami bahwa Allah yang maha mendengar tidak mendengarkan doa kami. Mereka membisikkan di dalam hati kami bahwa Allah yang maha pemberi sangat kikir terhadap kami. Padahal kami sudah berdoa dengan khusyuk, dan telah banyak ikhtiar yang kami lakukan sesuai kemampuan kami.


Kelemahan iman kadangkala ingin meng-iyakan semua bisikan jahat itu, ingin marah dan putus asa, namun rasa sayang terhadap Allah mampu mengalahkan semua bisikan itu.


Tidak mungkin Allah yang jahat tidak mungkin Allah yang kikir tidak mungkin Allah tidak mendengar, pasti aku yang salah, pasti aku yang berdosa, pasti aku yang bodoh, pasti aku yang tidak mengerti maksudNya, Allah baik dan selalu baik.


Sarah diberi Allah anak di usia 80-an tahun. "Robbi habli Minnas solihiinn..." Rintih nya dalam ratusan purnama. 


Anak itu amanah, yang dititipkan oleh Allah pada siapa yang Dia pilih. Dititipkan, alhamdulillaah, tidak dititipkan juga alhamdulillaah. 


Bisa jadi ketika dititipkan, anak itu menjadi penjahat setelah dewasa, yang membuat hati terus menyesal telah melahirkan nya, bukan kah banyak kita dengar sumpah serapah dari ibu yang teraniaya oleh kejahatan anak nya, membuat malu keluarga, dan menyakiti banyak orang.


Pintu syurga itu banyak, tak harus orang yang masuk syurga itu memiliki anak, jika tolak ukur kesolehan seseorang dilihat dari banyak nya buah hati, maka betapa sedih Aisyah Radhiyallahu Anhu yang seumur hidup tak memiliki nya, padahal ia adalah wanita yang masa depan nya adalah syurga.

Jangan kita memaksa hal belum direzekikan kepada kita. Kita hidup untuk beribadah dan mati untuk bertemu Allah, bukan hidup untuk punya anak, bukan hidup untuk punya harta, itu bukan tujuan kita, namun hanya menjadi wasilah untuk berbakti pada Allah. Carilah wasihal yang kita mampu untuk meraih banyak amal. 


Banyak pintu syurga yang lain, puasa, haji, solah Sunnah, sedekah, menjaga anak yatim, menjadi istri Solehah, menjadi suami soleh, menjadi anak berbakti. 


Jangan meratap dan memaki Allah hanya demi wasilah, inti tujuan hidup kita ini untuk ridho kepada Allah dan diridhoi oleh Allah. Sayang pada Allah apapun yang terjadi, dan Allah pun sayang pada kita dengan ilmu kebijaksanaan Nya.


Hidup ini bukan kata kita, tapi kata Allah, menurut Allah mungkin kita tak layak, atau tak kuat jika diberi, malah menjadikan kita tidak bertambah baik dan celaka.


Selayak nya anak kecil yang minta bermain pisau pada ibu nya, ibu sebagai orang yang tahu bahaya nya, maka ibu melarangnya agar tidak tergores atau tertusuk yang bisa menyakiti dan mencelakakannya, maka ibu biarkan dia menangis dengan kekecewaannya yang tak bisa bermain pisau yang mengkilap tajam itu. Anak yang tak mengerti ini berkata "mama jahat, mama pelit, mama ga sayang Dede" tetap ibu tidak memberinya, karena rasa sayang ibu terhadap anak kecil tersebut. Dan ibu akan sangat bahagia ketika anak nya ridha dan berkata "yaudah deh, Dede nurut kata mama, Dede main yang lain aja, ga mau maksa minta pisau lagi"


Maka kedudukan yang paling indah adalah ridha, "radhitubillahi Robba, aku ridha menerima pilihan mu ya Allah" hati ridha dan tidak marah, namun ikhtiar dan berdoa terus dilakukan, dengan






Sang Pendosa

 Cinta sejati dan cinta khianat.

Sebuh kisah antara Yang mencintai begitu dalam, dan si penista cinta.


Dari aku yang sering menghianati Mu.


Mata ku yang bagai menjadi sungai deras seketika setelah mengabaikan Mu, mengacuhkan Mu.


Kenyataan mengatakan aku bukan pencinta yang baik, selalu tak penuhi ingin Mu, tak berjuang mencintai Mu dengan lebih baik. 


Aku yang bodoh lalu menyesal, lagi dan lagi, karena aku sadar bahwa tak ada yang lebih hebat mencintai ku dibanding Engkau. Aku tak bisa lari dan tak bisa kemana pun selain mengemis cinta Mu lagi, setelah aku sia-sia kan.


Aku yang selalu berdosa, keji, jahat dan kotor, namun tak bisa menafikan cinta Mu selama ini.


Hubungan yang begitu rumit, ketika cinta yang tulus diberikan kepada penista seperti diri ku.


Kepada Sang Maha Kasih.

Dari aku yang sering menghianati Mu.


Halaqoh terbiru :'(

pertemuan terakhir dengan murobiah pertamaku dalam sebuah 'LINGKAR CINTA KARENA ALLAH' dimana kasih sayang persaudaraan sangat nyata terasa dalam atmosfir ukhuwah fillah ini... Uhubbikum fillah ya ukhty...

sore hari ditempat liqo yang berbeda dari biasanya yakni mushala FITK, telah duduk seorang murobiah yang berkarakter ceria, gembira dan selalu mengembang senyum di wajahnya, mungkin karena ia terbiasa ceria karena ia adalah seorang guru TK, dengan jilbab ungu tua yang sangat manis, dia duduk di sudut mushala itu. dialah murobiah ku. Amalia namanya. mentor pertamaku, yang sangat ku sayangi.

Rombongan para akhwat dari grup liqo rabu dan jum'at berkumpul untuk liqo terakhir kalinya dengan kak Amal dalam sebuah lingkaran mentoring. ini bukan berarti aku tidak akan bertemu lagi dengannya, namun ini berarti aku akan jauh darinya, dan tidak akan bertemu lagi dengannya dalam sebuah lingkar mentoring yang dipimpinnya lagi.

dengan mengucapkan basmallah liqo ini dimulai. dari awal hatiku telah biru. Mata ku telah berkaca, merasakan pedih nya detik detik perpisahan walau bukan perpisahan yang sejati.

Aku sayang kakak karena Allah. Kakak yang selalu datang kehadapanku untuk menuntunku ke jalan indah namun terjal menuju syurga, yang memegang jemariku dengan lembut namun erat, yang merengkuh hati ku dengan perlahan menyusup hingga tak kusadari diri ku telah jatuh cinta pada mu dan pada yang kau ajarkan. Seperti ketulusan para anggota di darul arqom, yang melingkar menimba ilmu dari Rosulullah secara diam diam bersembunyi dari dunia luar yang masih kejam dan hina, lalu setelah selesai, mereka membuat liangkaran lingkaran cinta lain agar semakin banyak manusia yang masuk ke dalam cinta sejati pada Tuhan nya. 

Lingkaran cinta itu merubah mata ku dalam menatap dunia, merubah tujuan ku dalam menjalani kehidupan, merubah aku dari relung jiwa paling dalam hingga cover luar ku yang nampak.

Ini surat terbuka untuk ketulusan setiap orang yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah manusia kepada kejahatan, dengan mengorbankan waktu nya, uang nya, kesibukan nya, urusan urusan nya, kelelahan nya, istirhat nya, pikiran nya, segala nya.. demi mengajarkan cinta sejati kepada Allah.

Semoga Allah memuliakan dan menjaga kita semua sampai akhir hayat. Aamiin

Miss you bidadari.



Bidadari nun jauh di sana

Kisah nyata dengan nama samaran.


#bukan sedih, tapi rindu.


Ya Allah, ampunilah dosa nya, dan rahmatilah dia, kutarik nafas panjang sambil terpejam seraya air mata terjatuh di kain putih mukena ku, aku bergumam, Mungkin doa ku sia-sia, karena aku yakin Engkau memberi nya lebih dari itu, lebih dari sekedar maaf dan ampunan, karena Kau mencintai nya, Kau menyayangi nya, Kau merindukan nya... Aya telah mendapatkan hal paling penting dari hidup ini, yaitu cinta dari Mu.


Aku membaca ayat kursi dan Alfatihah, lalu menitip salam untuk Rosulullah sallallahu alaihi wasalam, kemudian berdoa, ya Allah, seandainya Aya boleh mendengar ucapan ku, aku menitip suara ini untuk nya... : Aya, ini ibu kirim doa untuk Aya dari jauh, Aya jangan lupain ibu ya, semoga kita bisa berjumpa lagi di sana Aya... Usia Aya jauh dibawah ibu, tapi Aya unggul dalam ibadah dan beramal, dan dengan usia yang singkat ini Aya tak sempat berbuat dosa, mungkin Aya akan sangat tinggi menembus lapisan demi lapisan syurga, semoga ibu bisa masuk syurga juga.. insyaAllah.. ibu sayang Aya.. 


Itulah sepenggal surat cinta ku untuk Aya, seorang murid yang menyejukan pandangan.

Nama nya Cahaya Mulia, seperti nama toko emas? Tidak, nama nya memang sangat cocok untuk dia.


Aku Arini, pertemuan singkat ku dengan Cahaya dimulai 5 tahun lalu, yaitu tahun 2015. Aku yang saat itu sedang menjadi mahasiswa S1 tingkat akhir mengisi waktu luang di dalam pesantren dekat kampus ku, mengajar disana sore hari, malam nya aku membagikan makanan untuk para santri, dan menemani mereka makan, aku tidur bersama mereka, malam nya aku membangunkan mereka untuk sholat tahajud dan pagi nya aku membagikan sarapan, lalu tugas ku selesai. Aku akan kembali ke pesantren sore berikutnya.


Setiap anak memiliki kharisma nya masing-masing, aku menyayangi semua nya. Termasuk Cahaya. Cahaya adalah seorang anak yang santun, dia tak pernah melewatkan ku saat berpapasan tanpa memberi senyum dan kecupan mesra nya di punggung tangan kanan ku, kecuali ketika aku terburu-buru, dia hanya menyapa dan tersenyum tanpa bersaliman. Dia pemalu, bahkan untuk menatap wajah ku saja dia tak berani berlama-lama, padahal aku kan juga wanita, tak perlu dipertanyakan lagi apakah di usia remaja nya dia habiskan untuk memikirkan kekasih, bahkan memandang wajah bu guru saja dia malu, apa lagi memandang lelaki.

Tak banyak yang aku tau tentang Cahaya, dia tak banyak bicara, yang aku tau dia santun, lembut dan suka menolong. 

Di pesantren bukan berarti setiap hari tenang seperti taman syurga, ada kala nya mereka bertengkar, seperti hal nya kakak beradik dalam satu atap, pasti ada sedikit bumbu perselisihan, tapi sepengetahuan ku, cahaya tidak pernah terlibat, dia terlihat sabar dan mengalah, terkadang dia juga terlihat pucat dan lelah, mungkin dia juga tidak bertenaga untuk bertengkar, dia hanya menghabiskan energi nya untuk belajar dan menghafal AlQuran.


Waktu berlalu, aku sudah menikah, sudah menamatkan S2, dan kini sudah pindah ke pulau lain. Saat ini Cahaya menjadi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi AlQuran, sambil terus mengabdi di pesantren menjadi guru, tak perlu diragukan hafalannya, karena Cahaya kini telah menamatkan cita cita nya sebagai Hafidzah AlQuran 30 juz, alhamdulillah.

Roda berputar kini adik bungsu ku yang masuk pesantren itu, tetapi belum bermukin di pesantren, mungkin dia akan menginap saat sudah MTS, sekarang Cahaya adalah ibu guru nya, lumayan walau baru kelas 2 SD, adik ku sudah banyak menghafal surat surat panjang. Setiap hari bunda ku mengantar dan menemani adik ku, bunda ku juga sangat dekat dengan Cahaya, jika ada waktu kosong bunda sering bertanya ilmu ilmu AlQuran pada cahaya, karena mencari ilmu tak pandang usia atau status, selagi ada ilmu yang bisa bermanfaat maka Cahaya mengajarkan nya, dan bunda pun tak malu untuk bertanya pada Cahaya yang jauh belia.


Beberapa hari lalu aku lihat status bunda di media sosial, ada foto Cahaya dengan tulisan memohon bantuan donor darah berjenis A+ sebanyak banyak nya, di RS Fatmawati untuk menolong Cahaya yang didiagnosa Anemia Aplastik, sudah 4 hari Cahaya dalam keadaan koma.


Aku yang sudah 4 tahun tidak melihat Cahaya tiba-tiba dapat kabar seperti ini, ku jawab status Bunda, 

"Dia itu dulu murid nya uni bun, Sakit apa dia bun? Kok anemia sampai koma?"

"Anemia aplastik sayang, bunda juga ga tau, tapi sekarang masih koma, semoga darah bunda yang tiap bulan bunda donorkan masuk dan bermanfaat ke tubuh bu guru Cahaya."

"Aamiiinn bun, semoga Allah kasih yang terbaik buat Cahaya"


Segera ku repost status bunda. Dan beberapa menit kemudian di repost juga oleh beberapa orang.


Dengan rasa ingin tau, aku cari tau tentang anemia aplastik, ku baca ulasan seorang dokter, tak terasa aku menangis, membayangkan kondisi Cahaya saat ini, mirip seperti kangker darah, sum sum tulang belakang nya tidak memproduksi darah dengan baik.

Suami ku heran melihatku menangis, lalu bertanya.


"Sayang kenapa nangis main hp?"

"Lagi baca tentang anemia aplastik bi, murid adek dulu lagi koma bi, karena penyakit ini, kasihan banget bi, badan nya ga bisa memproduksi darah sendiri, sekarang butuh banyak darah dari orang lain." Jelasku yang mengambil kesimpulan cepat dari tulisan itu

"Ya Allah.. semoga cepet sembuh ya dia.." jawab nya sambil menghela nafas seperti ikut merasakan kesedihan ku

"Aamiiin bi.." jawab ku singkat sambil terus membaca tulisan dokter itu.


Sehabis sholat aku mendoakan nya, aku menangis, entah mengapa, padahal aku hanya sekilas mengenal nya, mungkin karena dia setenang bidadari.


Esok hari hp ku berbunyi, ada panggilan masuk dari Bunda ku.

"Assalamualaikum sayang, innalillahi Cahaya meninggal..." ku dengar suara bunda ku yang nafas nya terisak-isak, aku yakin bunda sedang menangis.

"Ya Allah... Innalillahi wainna ilaihi rojiun" Aku pun menangis.

"Jangan sedih bun.." lanjut ku.

"Ya... bukan nya sedih, tapi kan kangen ni.. dia itu baik banget dan lembut ngajarin bunda, dah bunda sayang kaya anak kandung rasa nya" jawab bunda spontan.

Aku tertegun.

"Kita rindu, tapi Allah lebih rindu sama dia" bisik ku di dalam hati.

"Cahaya pasti udah bahagia sama Allah, uni doa yang terbaik buat Cahaya, tapi mungkin terbaik menurut Allah itu bertemu Allah" ujar ku.

"Iya sayang, semoga bahagia dia di sana.. kemaren dia sempet koma dan tersiksa dengan penyakitnya" jawab bunda.

"Iya bun, mungkin Allah udah kangen banget sama dia, di hidupnya yg sebentar itu sibuk beramal aja, bahkan hafal seluruh AlQuran. Kalau sakit itu kan penggugur dosa, tapi mungkin sakitnya dia ini bukan penggugur dosa tapi untuk membuat dia sampai pada derajat tinggi yang Allah kehendaki" jelas ku.

"Iya sayang, bunda cuma mau ngabarin itu aja.. sayang hati hati ya di sana, assalamualaikum" tutup bunda.

"Iya bunda sama bapak juga sehat sehat ya di sana, waalaikumsalam" jawab ku.


Kebetulan sudah azan Dzuhur, setelah menutup telepon, aku sholat dan berlirih pada Allah.


Ya Allah, ampunilah dosa nya, dan rahmatilah dia, kutarik nafas panjang sambil terpejam seraya air mata terjatuh di kain putih mukena ku, aku bergumam, Mungkin doa ku sia-sia, karena aku yakin engkau memberi nya lebih dari itu, lebih dari sekedar maaf dan ampunan, karena Kau mencintai nya, Kau menyayangi nya, Kau merindukan nya... Cahaya telah mendapatkan hal paling penting dari hidup ini, yaitu mencintai dan dicintai Mu.


Ya Allah, seandainya Aya boleh mendengar ucapan ku, aku menitip suara ini untuk nya... Aya, ini ibu kirim doa untuk Aya dari jauh, Aya jangan lupain ibu ya, semoga kita bisa berjumpa lagi di sana Aya... Usia Aya jauh dibawah ibu, tapi Aya unggul dalam ibadah dan beramal, dan dengan usia yang singkat ini Aya tak sempat berbuat dosa, mungkin Aya akan sangat tinggi menembus lapisan demi lapisan syurga, semoga ibu bisa masuk syurga juga.. insyaAllah ya.. ibu sayang Aya.. tolong sampaikan ya Allah..


Ya Allah.. Engkau sangat sayang hamba Mu ya Allah. Sangat sesak rindu itu pada Mu ya Allah? Kami saja yang sekilas mengenalnya tiba-tiba saja bisa merindukan nya, apa lagi Engkau ya Allah.. tiap kalam Mu disenandungkan setiap saat oleh nya, ada dalam jiwa nya, bukan hanya dalam genggaman tangan berupa fisik AlQuran, dia bersusah payah mengukir kata kata Mu dalam benak nya, dia habiskan waktu untuk Mu, untuk berbakti dan untuk menghamba.. dia merindukan Mu setiap nafasnya, dan Kau pun merindukan nya. Gayung cinta bersambut indah antara hamba dan Tuhannya. 


Ya Allah.. aku titip salam untuk Rosulullah.. dan keluarga nya, dan sahabat seperjuangan nya, umat muslimin di dunia, dan untuk Cahaya. Semua yang indah adalah milik Mu ya Allah. Cahaya indah, akhlak nya indah, hidup nya indah. Indahkan juga aku ya Allah. Tapi aku penuh dosa. Aku dzolim. Aku keji. Aku jahat. Aku berlindung dengan kekuatan Mu dari kejahatan diri ku sendiri ya Allah. Kau sudah pasti mencintai semua hamba Mu, tapi aku ini yang tak mampu membalas cinta yang setimpal, kadang aku yang tak mau, kadang aku yang ingkar, kadang aku bodoh, kadang aku yang malas. Aku selalu sia-siakan cinta Mu. Ya Allah.. jadikan aku baik... Aaamiiinn..." 


 Cahaya menutup hidupnya dengan tangisan rindu para kerabat, kerabat sekilas semacam diri ku saja merindu, entah bagaimnaa kerinduan ibu nya, ayah nya, sahabat nya yang setiap hari ada di sisi nya.. rindu yang tak berujung dan entah kapan berjumpa.. kita semua nanti akan dimatikan juga, apakah happy ending dalam kisah kita?  bagaimanakah nasib diri. Aku yang pasti akan menyusul, masih sibuk dengan dunia ini.


Sampai bertemu di dimensi lain.  Salam dari penulis untuk sesama hamba yang sama sama sedang menunggu waktu berhenti nya. Kembali pada Allah. Sehidup se-syurga.


By: Arini indi khair

Based on true story, kisah nyata. Nama asli beliau Nurul Karomah yang berarti Cahaya Mulia.

Setia adalah sebuah pilihan

 Analogi.


Setia adalah sebuah pilihan, sebuah perjuangan bergolak batin, ketika yang dimiliki bukanlah menjadi yang diingini, bukan karena kurang atau lebih nya, namun terkadang setan membuat selera kita yang biasanya ketupat sayur tiba tiba sangat ingin mencicipi kuetiaw seafood.

Ketupat sayur yang sudah lezat sempurna saja masih bisa kita abaikan karena bosan, apalagi yang memang keasinan atau hambar penuh cela.

Wangi kuetiaw semerbak disepanjang jalan, mata melihat seruput nikmat para penikmat di pinggir jalan, hidung dimanjakan oleh wangi yang mengiang-ngiang. Tapi ingat ada ketupat di rumah. Bisa saja kita tak setia, menyicip di pinggir jalan, namun apakah masih sanggup makan ketupat ketika perut sudah terisi kuetiaw yang menggoda, tentu saja lebih begah dari biasanya dan ketupat pun dicampakan lalu menjadi basi.

Ketika kita memilih untuk memakan semua nya sekaligus, runyam masalah sakit perut dan mual karena terlalu banyak makan, tetap saja ingin kuetiaw lagi dan lagi, akhirnya tak sanggup mendua, tetap saja memilih untuk mengabaikan ketupat.

Ketika kita sudah berhenti memakan ketupat, dan rutin memakan kuetiaw sebagai bahan pokok, tiba tiba perut kita sakit, tak kuat menahan gurih setiap hari, ternyata baru menyadari apa yang lezat belum tentu baik dan cocok bagi diri, sehingga kita menyesal sudah tak setia.


Lebih baik tutup mata telinga dan hidung dari makanan penggoda, karena sekali tergoda, sangat sulit untuk melupakan nikmat nya.

Usia kamu 31 tahun


 Barokallah fi umrik sayang ku, selamat bertambah umur dan berkurang usia sayang.


Terimakasih sayang yang telah  menerima buruk dan baik ku, yang memeluk saat aku butuh bersandar, yang mengusap air mata saat hati ku sedang terluka, mengobati hati ku yang sering hampa, yang menasehati aku, yang memberi kata kata indah menyejukan hati ku yang kering, yang menyirami jiwa ku untuk terus menjadi baik. 


Aku berharap kamu akan selalu baik dan berusaha menjadi baik sampai akhir, karena kamu adalah tempat berpegangan ku ditengah badai kehidupan, karena kepedulian mu dan kasih sayang mu adalah intan berlian bagi ku.


Kamu tak akan pernah sempurna, karena tak ada manusia yang sempurna, tapi kamu begitu berharga bagi ku.

Pemilik Diri tolonglah aku


Semua org punya masalah masing2, insecurity, Insanity, mental health issues masing masing.

Mungkin kesepian, kehampaan, perasaan menyerah, merasa kecewa, merasa muak dengan hidup, atau merasa muak dengan diri sendiri, marah dengan diri, jijik dengan diri, mungkin karena keserakahan, ego dan nafsu.

Setiap orang punya tempat terapi nya masing2, punya cara terapi masing2. 

Jangan bandingkan diri mu dengan mereka, jangan tekan diri mu terlalu keras, jangan bohongi diri mu terlalu dalam.

Maafkan diri mu sendiri jika kau kecewa dengan dia yang ada di cermin.

Maafkan dia jika kau kecewa dengan seseorang.

Ikhlaskan hidup mu jika kau kecewa dengan jalan cerita mu.

Pelan pelan saja, jangan mengejar waktu, karena luka kulit saja butuh waktu untuk mengering, apalagi luka batin.

Semoga siapapun yang pernah aku sakiti, hidupnya menjadi sangat bahagia hingga lupa pernah tersakiti.

Aku tak percaya lagi pada diri ku untuk mengurus hidup ku. Aku rusak, sakit dan lelah.

Ku serahkan pada Pemilik diri, aku ikuti semua perintah Nya, walau jiwa kelam ku masih menginginkan kegilaan dosa dosa ku.

"Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini." -Ali Bin Abi Thalib

Aku lihat diri ku lihai dalam bersabar atas segala keburukan yang menimpa, atas tangis dan luka, aku berdiri kokoh menguat dan menjadi mulia, namun ketika ujian hidup ku adalah keindahan yang menipu, hasrat indah yang keji, kesempatan yang menjerumuskan, maka aku gagal dan tertipu, aku masuk dalam kubangan itu, aku berlumuran kehinaan.

Aku tak mampu mengurus hidup ku lagi, tak bisa memilih mana baik dan buruk, tak menentu arah ku, tak bisa ku hinakan kehinaan itu, masih ku rindu, masih ku ingin..... namun aku tak tau misteri waktu, aku mungkin harus menyerahkan diri ku sekarang juga untuk berpasrah pada Pemilik diri, aku tunduk bersabar menahan diri dari sesuatu yang aku ingini. Tuhan tolong urusilah hidup ku, bersihkanlah diri ku. Sebelum kita bertemu di kehidupan akhirat.