kesatuan muslim itu bagai sebuah tubuh, jika ada yang sakit, maka semua juga merasakan sakitnya, begitulah hadis yang pernah aku baca di buku perpustakaan, jadi sayangilah sesama muslim, dan jangan sampai ada yang tersakiti :D (klik gambar untuk memperbesar)
Orang Islam karena imannya tidak mencintai ketika ia harus mencintai
melainkan karena Allah Ta‘ala, dan tidak membenci ketika ia harus
membenci melainkan karena Allah Ta‘ala, karena ia tidak mencintai
kecuali apa yang dicintai Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, dan ia tidak
membenci kecuali apa yang dibenci Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya. Jadi,
orang Muslim mencintai karena Allah dan Rasul-Nya, dan membenci karena
keduanya. Dalilnya ialah sabda Rasulullah saw.,
"Barangsiapa
mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan
menahan pemberian karena Allah, sungguh ía telah rnenyempurnakan
imannya." (Diriwayatkan Abu Daud).
Berangkat dan perspektif
inilah, orang Muslim mencintai seluruh hamba-hamba Allah Ta‘ala yang
shalih, ia berikan loyalitasnya kepada mereka, membenci seluruh
hamba-hamba-Nya yang fasik, dan memusuhi mereka. Ini tidak menghalangi
orang Muslim untuk menjadikan sahabat-sahabatnya sebagai saudara-saudara
karena Allah, dan ia beri cinta khusus kepada mereka, sebab Rasulullah
saw. menganjurkan menjadikan teman-teman yang baik sebagai
saudara-saudara karena Allah Ta‘ala dengan sabda-sabdanya, seperti
sabda-sabdanya berikut ini:
Sabda Rasulullah saw.,
"Orang
Mukmin itu jinak dan bisa dijinakkan. Tidak ada kebaikan pada orang yang
tidak jinak, dan tidak bisa dijinakkan." (Diriwayatkan Ahmad,
Ath-Thabrani, dan Al-Hakim yang meng-shahih-kannya).
"Sesungguhnya
di sekitar Arasy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, dan di atas
mimbar-mimbar tersebut terdapat orang-orang di mana pakaian mereka
adalah cahaya, dan wajah mereka adalah cahaya. Mereka bukan nabi, dan
bukan pula syuhada'. Para nabi, dan syuhada' iri kepada mereka."
Ditanyakan kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, sebutkan
sifat-sifat mereka kepada kita." Rasulullah saw. bersabda, "Mereka
saling mencintai karena Allah, saling duduk karena Allah, dan saling
mengunjungi karena Allah." (Diriwayatkan An-Nasai. Hadits ini shahih).
"Sesungguhnya
Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kecintaan-Ku berhak dimiliki orang-orang yang
saling berkunjung karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak dimiliki orang-orang
yang saling menolong karena-Ku'." (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim yang
men-shahih-kannya).
"Ada tujuh orang yang dilindungi Allah di
bawah lindungan-Nya pada hari tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya:
(1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang besar dalam ibadah kepada Allah
Ta'ala, (3) orang yang hatinya menyatu dengan masjid, (4) dua orang
yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena-Nya dan
berpisah karena-Nya, (5) orang yang menyendiri berdzikir kepada Allah
kemudian matanya mengucurkan airmata, (6) orang yang diajak oleh wanita
yang berketurunan baik dan cantik kemudian ia berkata, ‘Aku takut kepada
Allah Ta‘ala, (7) dan orang yang bersedekah dengan sedekah kemudian ia
merahasiakannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
diinfakkan tangan kanannya." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
"Seseorang
berkunjung kepada saudaranya di desa lain, kemudian Allah menyuruh
malaikat untuk berjalan mengikutinya. Ketika malaikat tersebut bertemu
dengan orang tersebut, ia bertanya, ‘Engkau akan pergi kemana?' Orang
tersebut menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini?'
Malaikat bertanya, ‘Apakah karena nikmat yang ingin engkau dapatkan?'
Orang tersebut menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintai saudaraku
tersebut karena Allah.' Malaikat berkata, ‘Aku adalah utusan Allah
kepadamu untuk mengatakan kepadamu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana
engkau mencintai saudaramu tersebut'." (Diriwayatkan Muslim).
Syarat
ukhuwwah (persaudaraan) ialah harus karena Allah Ta‘ala, dan di
jalan-Nya, dalam arti kata, bersih dari ikatan-ikatan dunia dan materi,
serta motivasinya ialah iman kepada Allah Ta ‘ala, dan bukan yang lain.
Adapun ciri-ciri orang yang harus dijadikan sebagai saudara ialah sebagai berikut:
1. Ia berakal, karena tidak baik bersaudara, atau bersahabat dengan orang yang kurang waras.
2.
Ia berakhlak mulia, sebab orang yang amoral kendati ia berakal, namun
bisa saja ia dikalahkan syahwat, dan emosi mendominasinya, akibatnya ia
berbuat jahat kepada orang lain.
3. Ia bertakwa, karena orang
fasik yang tidak taat kepada Tuhannya itu tidak bisa dipercaya, sebab
tidak tertutup kemungkinan ia berbuat jahat terhadap saudara tanpa
memperdulikan persaudaraan, dan lain sebagainya, karena orang yang tidak
takut Allah Ta ‘ala itu tidak takut kepada selain Allah dalam kondisi
apa pun.
4. Ia berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah,
jauh dari khurafat, dan bid'ah, sebab akibat buruk pelaku bid'ah itu
menimpa temannya, dan karena pelaku bid'ah dan penurut hawa nafsu itu
harus ditinggalkan dan diembargo, maka bagaimana mungkin menjadikan
keduanya sebagai saudara, atau sahabat karib? Salah seorang dan
orang-orang shalih menasihati anaknya untuk menyeleksi teman-temannya,
"Anakku, jika engkau ingin bergaul dengan orang-orang, maka bergaullah
dengan orang yang jika engkau mengabdi kepadanya maka ia melindungimu,
jika engkau bergaul dengannya maka ia menghiasimu, dan jika perbekalanmu
habis maka dia memberikan perbekalan kepadamu. Bergaullah dengan orang
yang jika engkau menyodorkan tanganmu dengan kebaikan maka ia juga
menyodorkan tangannya, jika ia melihat kebaikan padamu maka ia
menghitungnya, dan jika ia melihat kesalahan padamu maka ia menutupnya.
Bergaullah dengan orang yang jika engkau meminta kepadanya maka ia
memberi apa yang engkau minta. Bergaullah dengan orang yang jika engkau
berkata maka ia membenarkan ucapanmu, jika engkau berdua ingin
mendapatkan sesuatu maka ia mengangkatmu sebagai ketua, dan jika engkau
berdua memperebutkan sesuatu maka ia mengutamakanmu."
Hak-hak Ukhuwah (Persaudaraan)Di antara hak-hak ukhuwah (persaudaraan) ialah sebagai berikut:
1.
Membantu dengan dana. Setiap saudara harus membantu saudaranya dengan
dana jika saudaranya memerlukannya. Dalam arti bahwa uang keduanya
adalah uang bersama, seperti diriwayatkan Abu Hurairah ra bahwa ia
didatangi seseorang yang kemudian berkata, "Aku ingin bersaudara
denganmu karena Allah, tahukah engkau apa hak persaudaraan?" Abu
Hurairah berkata, "Tolong jelaskah hak persaudaraan kepadaku." Orang
tersebut berkata, "Engkau tidak merasa lebih berhak atas dinarmu, dan
dirhammu daripada aku." Abu Hurairah berkata, "Aku belum bisa sampai
pada tingkatan itu." Orang tersebut berkata, "Kalau begitu, pergilah
engkau dari sini."
2. Masing-masing dari dua orang yang
bersaudara harus membantu saudaranya dalam memenuhi kebutuhannya,
mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri, memeriksa kondisi
saudaranya sebagaimana ia memeriksa kondisi dirinya, lebih mengutamakan
saudaranya daripada dirinya sendiri atau keluarganya atau anak-anaknya,
menanyakannya dalam setiap tiga hari. Jika saudaranya sakit maka ia
menjenguknya, jika saudaranya mengalami kesulitan maka ia membantu
meringankannya, jika saudaranya lupa maka ia mengingatkannya,
menyambutnya dengan hangat jika saudaranya mendekat, memberi tempat yang
luas jika saudaranya ingin duduk, dan mendengarkan dengan senius jika
saudaranya berbicara.
3. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan
aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuannya, tidak
membongkar rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia
diri saudaranya. Jika ia melihat saudaranya di salah satu jalan untuk
satu kebutuhan, maka ia tidak menyuruhnya menyebutkan kebutuhannya
tersebut, dan tidak berusaha mengetahui sumbernya. Ia menyuruhnya kepada
kebaikan dengan lemah-lembut, melarangnya dari kemungkaran dengan
lemah-lembut, tidak membantah ucapannya, tidak mendebatnya dengan
kebenaran atau kebatilan, tidak mengecamnya dalam satu urusan pun, dan
tidak menyalahkan perbuatannya.
4. Memberi sesuatu yang dicintai
saudaranya dan lisannya dengan memanggilnya dengan nama yang paling ia
sukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau di depannya,
menyampaikan pujian orang kepadanya sebagai bentuk keiriannya kepadanya
dan kebahagiaannya dengannya, tidak menasihati berjam-jam hingga
membuatnya gerah, dan tidak menasihati di depan umum karena hal mi
mencemarkan nama baiknya. Imam Syafi'i Rahimahullah berkata,
"Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia, sungguh ia telah
menasihatinya dengan baik, dan menghiasinya. Dan barangsiapa menasihati
saudaranya dengan terang-terangan, sungguh ia telah mencemarkan nama
baiknya."
5. Memaafkan kesalahannya, tidak mengambil pusing
dengan kekeliruan-kekeliruannya, menutup aib-aibnya, berbaik sangka
kepadanya, jika saudaranya berbuat maksiat dengan diam-diam atau terang
terangan maka ia tidak memutus persaudaraan dengannya, tidak membatalkan
persaudaraannya, namun ia tetap menunggu taubatnya. Jika saudaranya
tetap bertahan berbuat maksiat, ia boleh memutus persaudaraan dengannya,
atau tetap mempertahankan persaudaraan dengannya dengan memberikan
nasihat kepadanya, dan terus mengingatkannya dengan harapan saudaranya
bertaubat, kemudian Allah Ta‘ala menerima taubatnya. Abu Ad-Darda' ra
berkata, "Jika saudaramu berubah, maka engkau jangan meninggalkannya
karena hal tersebut, karena saudaramu itu terkadang menyimpang, namun
pada kesempatan lain ia berada di atas jalan yang lurus."
6.
Memenuhi hak ukhuwwah (persaudaraan) dengan menguatkannya dan
mempertahankan perjanjiannya, karena memutus ukhuwwah itu membatalkan
pahala ukhuwwah. Jika ia meninggal dunia, ia mentransfer hubungan
ukhuwwah ini kepada anak-anaknya, dan sahabat-sahabat yang setia
kepadanya untuk menjaga ukhuwwah, dan setia kepada saudaranya.
Rasulullah saw. memuliakan wanita tua, kemudian beliau ditanya tentang
sikapnya tersebut, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya wanita tua ini
dulu sering datang kepada kami semasa Khadijah masih hidup, dan
sesungguhnya memuliakan janji adalah bagian dan agama." (Diriwayatkan
Al-Hakim dan ia men-shahih-kan hadits ini).
Di antara bentuk
kesetiaan kepada ukhuwwah ialah ia tidak boleh bersahabat dengan musuh
saudaranya, karena Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Jika temanmu
mentaati musuhmu, maka keduanya terlibat dalam permusuhan denganmu."
7.
Tidak menyuruh saudaranya dengan sesuatu yang tidak mampu ia kerjakan,
dan tidak ia senangi. Ia tidak boleh bergantung dengan harta atau
jabatan saudaranya, dan tidak menyuruhnya mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan, karena asas ukhuwwah ialah karena Allah Ta‘ala.
Oleh karena itu, ukhuwwah ini tidak boleh diubah kepada selain Allah,
misalnya untuk menarik rnanfaat dunia, atau menolak madharat dunia.
Sebagaimana tidak menyuruhnya dengan sesuatu yang tidak mampu ia
kerjakan, dan juga tidak boleh mengkondisikan saudaranya menyuruh
dirinya mengerjakan sesuatu yang tidak mampu ia kerjakan, karena hal ini
merusak ukhuwwah dan mengurangi pahala yang keduanya harapkan dari
ukhuwwah. Ia bersama saudaranya harus membuang sikap pembebanan yang
tidak proporsional, karena cara seperti itu menghasilkan sikap jalang
yang bertentangan dengan persatuan. Disebutkan dalam atsar, "Aku, dan
orang-orang bertakwa dan umat berlepas diri dari pembebanan yang tidak
proporsional."
8. Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan apa
saja yang terkait dengannya sebagaimana ia senang mendoakan dirinya,
anak-anak kandungnya, dan apa saja yang terkait dengannya, sebab
seseorang tidak berbeda dengan saudaranya karena persaudaran telah
menyatukan keduanya. Oleb karena itu, ia harus mendoakan saudaranya baik
dalam keadaan hidup, atau mati, atau tidak ada di tempat, atau berada
di tempat. Rasulullah saw. bersabda,
"Jika seseorang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga
mendapatkannya'." (Diriwayatkan Muslim).
Salah seorang dari
orang-orang shalih berkata, "Mana perumpamaan seorang saudara yang
shalih? Jika salah satu keluarga seseorang meninggal dunia, maka
keluarganya pasti membagi-bagi warisannya, dan mereka menikmati harta
peninggalannya. Sedang saudaranya yang shalih, ia berduka sendirian,
memikirkan apa yang telah dipersembahkan saudaranya kepadanya,
mendoakannya di kegelapan malam, dan memintakan ampunan untuknya
sementara ia berada di bawah bintang-bintang."
text by : http://www.muslimdaily.net/opini/home/menjalin-ukhuwah.html