bismillahirrahmanirrahim... mencoba menggambar pertama kali lewat "paint" di komputer, ini gambar seorang gadis kecil yang baru belajar shalat, tapi sudah merasa ada cinta di hatinya untuk Allah dan dia sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, gambarnya agak kaku karena menggunakan mouse, hasilnya lumayan berantakan (^_^) afwan (klik gambar untuk memperbesar)
Tahukah kita, jantung yang ada dalam tubuh adalah alat pemompa yang
amat menakjubkan. la bekerja terus tanpa henti sejak minggu ke-4 dari
kehidupan manusia (di dalam rahim) hingga kernatiannya. Jika seseorang
berumur 60 tahun, berarti selama itulah jantungnya tidak pernah berhenti
bekerja memompa darah. Adakah pompa di dunia ini yang tahan bekerja
selama 60 tahun tanpa henti?.
Jantung manusia beratnya tidak lebih dari 250 gram. la berdenyut 70
kali permenit atau 100 ribu kali perhari. la menyemprotkan darah
sebanyak 5 liter permenit atau 1.5 juta gal lon pertahun—meskipun darah
yang disemprotkan adalah yang itu-itu juga. Alat pemompa yang
menakjubkan ini mengirimkan darah ke selaput nadi, urat syaraf, dan
pembuluh darah, yang jika semua itu diletakkan secara berurutan pada
sebuah garis lurus maka panjangnya bisa mencapai 60-100 ribu mil!.
Tahukah kita, Galaksi Bimasakti hanyalah salah satu galaksi (gugusan
bintang) di dalam sistem tatasurya kita. Galaksi Bimasakti terdiri dari
sekitar 200 miliar bintang. Para astronom memperkirakan bahwa di alam
raya ini terdapat miliaran galaksi, dengan sekitar 1.000 triliun planet
dan bintang. Setiap bintang atau galaksi berjalan pada orbitnya dengan
kecepatan kira-kira 65.000 km perdetik. Di antara bintang-bintang itu
ada yang berukuran ribuan kali besar matahari, yang jaraknya dari bumi
adalah jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya kira-kira 9.416 miliar km
atau sekitar 10.000 tahun!. Itulah di antara tanda-tanda kemahakuasaan
Allah. Itulah ayat-ayat kauniyyah-Nya. Semua ayat-ayat kauniyyah itu
pada akhirnya meneguhkan klaim Allah SWT sendiri:
Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di
antara keduanya dengan main-main (QS al-Anbiya’ [21]: 16).
Benar, Allah
SWT tidak pernah bermain-main. Sebagaimana kata Einstein, Tuhan tidak
sedang bermain dadu ketika menciptakan jagat raya ini. Artinya, Allah
menciptakan seluruh jagad raya ini dengan sungguh-sungguh.
Allah SWT juga tentu tidak main-main ketika menurunkan ayat-ayat
qawliyyah-Nya., yakni al-Quran. Al-Quran tidak lain adalah kalam
(firman) Allah, Zat Yang Mahakuasa. Di dalamnya tidak secuil pun
cacat-cela, yang membuktikan bahwa al-Quran— sebagaimana
klaim-Nya—benar-benar berasal dari sisi-Nya:
”Tidakkah kalian memperhatikan al-Quran? Seandainya al-Quran itu
bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan
di dalamnya” (QS an-Nisa’ [4]: 82).
Jika Allah tidak pernah main-main dengan ayat-ayat kauniyyah-Nya.
(penciptaan alam semesta), juga dengan ayat-ayat qawliyyah-Nya.
(al-Quran), kita mendapati manusia malah sering ‘bermain-main’ dan
mempermainkan ayat-ayat Allah. Ketika Allah tidak pernah main-main
menciptakan jagad raya ini, termasuk manusia, kita mendapati banyak
manusia justru sering ‘bermain-main’ dengan kehidupannya; tidak serius
dan bersungguh-sungguh menjalani tugasnya sebagai hamba Allah, yakni
beribadah kepada-Nya dalam makna yang seluas-luasnya. Padahal bukankah
ibadah (pengabdian kepada Allah) merupakan raison d’etre penciptaan
manusia? Allah SWT berfirman:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS adz-Dzariyat [51]: 56).
Sebagai Muslim, kita tentu patut meneladani Nabi Muhammad saw. dan
para Sahabatnya, yang senantiasa menjalani kehidupan ini dengan serius
dan sungguh-sungguh, tanpa pernah bermain-main; terutama dalam urusan
ibadah, dakwah, dan jihad. Dalam urusan ibadah, kita tahu, Nabi Muhammad
saw. adalah orang yang paling banyak melakukannya. Nabi saw. tidak
pernah meninggalkan shalat malam, bahkan hingga kakinya sering
bengkak-bengkak karena lamanya berdiri ketika shalat. Nabi pun orang
yang paling banyak berpuasa, bahkan puasa wishal, karena begitu
seringnya Beliau tidak menjumpai makanan di rumahnya. Nabi juga adalah
orang yang paling banyak bertobat, tidak kurang dari 100 kali dalam
sehari, padahal Beliau adalah orang yang ma ‘shum (terpelihara dari
dosa) dan dijamin masuk surga.
Meski tidak sehebat Nabi saw., para Sahabat adalah orang-orang yang
paling istimewa ibadahnya setelah Beliau, tidak ada yang melebihi
mereka. Mereka, misalnya, adalah orang-orang yang pal ing banyak
mengkhatamkan al-Quran, paling tidak sebulan sekali, bahkan ada yang
kurang dari itu. Menurut Utsman bin Affan ra., banyak Sahabat yang
mengkhatamkan al-Quran seminggu sekali. Mereka antara lain Abdullah bin
Mas’ud, Ubay bin Kaab, dan Zaid bin Tsabit. Ustman ra. sendiri sering
mengkhatamkan al-Quran hanya dalam waktu semalam. Itu sering ia lakukan
dalam shalat malam.
Semua itu menunjukkan bahwa Nabi saw. dan para Sahabat adalah
orang-orang yang senantiasa serius dan bersungguh-sungguh dalam urusan
ibadah; mereka tidak pernah main-main.
Bagaimana dengan dakwah mereka? Jangan ditanya. Nabi saw. dan para
Sahabat adalah orang-orang yang telah menjadikan dakwah sebagai jalan
hidup sekaligus ‘jalan kematian’ mereka. Dengan kata lain, mereka hidup
dan mati untuk dakwah. Sebagian besar usia mereka, termasuk harta dan
jiwa mereka, diwakafkan di jalan dakwah demi menegakkan kalimat-kalimat
Allah.
Bagaimana dengan jihad mereka? Para Sahabat, sebagaimana sering
diungkap, adalah orang-orang yang mencintai kematian (di jalan Allah)
sebagaimana orang-orang kafir mencintai kehidupan. Amr bin Jamuh
hanyalah salah seorang Sahabat, di antara ribuan Sahabat, yang mencintai
kematian itu.
Dikisahkan, ia adalah orang yang sering dihalang-halangi untuk
berjihad oleh saudara-saudaranya karena kakinya pincang. Rasul pun telah
membolehkan-nya untuk tidak ikut berjihad karena ‘udzur-nya. itu.
Namun, karena keinginan dan kecintaannya yang luar biasa pada syahadah
(mati syahid), ia terus mendesak Rasul agar mengizinkannya berperang.
Akhirnya, Rasul pun mengizinkannya. Dengan penuh kegembiraan, Amr pun
segera berlari menuju medan perang, berjibaku dengan gigih melawan
musuh, hingga akhirnya terbunuh sebagai syahid.
Itulah secuil fragmen keseriusan dan kesungguhan salafusshalih dalam
menjalani kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita serius dan
bersungguh-sungguh dalam hidup ini? Ataukah kita masih mengisi hidup ini
dengan main-main? Na’udzu billah min dzalik
alhamdulillaah ^_^
text by : http://asysyifawalmahmuudiyyah.wordpress.com/2010/06/18/bersungguh-sungguh-dalam-ibadah/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar